Jauh di hari sebelum saya menulis tentang ini, saya sempat kesal dan bosan terhadap dua sahabat saya. Bagaimana tidak, gelar sarjana yang seharusnya sudah mereka raih harus pupus di tengah jalan hanya karena persoalan Skripsi. Saya pribadi tak mampu berbuat apa, karena saya hanya lulusan tingkat menengah, yang tak mungkin berani menasehati. Tapi saya akan sangat bangga sekali jika saya mempunyai sahabat seorang sarjana yang sukses. Namun sayang hanya karena Skripsi, Mimpi itu harus hilang.

Yang menjadi pertanyaan saya “Apa sih Skripsi? Begitu sulitkah?”

Ya, Memang saya tak paham tentang Skripsi, Tapi jika yang saya dengar Skripsi itu sama dengan Karya ilmiah, Lalu apa bedanya dengan Karya ilmiah yang pernah saya tulis sewaktu masih duduk di Sekolah kejuruan, Intinya kan hanya mengembangkan judul, ibarat membuat sebuah cerpen, hanya saja di sini perlu pertanggung jawaban untuk itu kita harus benar-benar memahami atas apa yang telah kita tulis, Oleh karena itu dulu saya mendapat nilai A. :) hebat ya? Hee Ucup budug gitu loch. Ups, sebenarnya sama saja tak ada yang hebat, intinya kan metode belajar yang baik itu adalah Dengar, tulis dan rasakan. Sama saja kan mau menciptakan lagu, cerpen, penelitian atau mungkin Skripsi yang sedang kita bahas ini. Lanjut dan jangan di bilang sok tahu ya kawan :)

Secara singkat, pengertian skripsi adalah karya tulis mahasiswa berupa penjelasan secara deskriptif, sistematis dari hasil penelitiannya terhadap realitas dan fenomena yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan serta menggunakan metode penelitian untuk memberikan solusi permasalahan demi meraih gelar sarjana.

Nah, pengertian skripsi di atas adalah pengertian secara formal, karena pada dasarnya tujuan skripsi bukan sekedar untuk meraih gelar sarjana semata, tapi intinya menguji mahasiswa yang akan memperoleh gelar sarjana untuk mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah didapatkannya selama perkuliahan dan skill-nya dalam mengindentifikasi masalah, menganalisisa, dan memberikan solusi permasalahan melalui penjelasan yang sistematis dan bisa dipahami sesuai dengan bidang studi yang diambil oleh calon sarjana.

Rintangan menyusun skripsi memang beragam. Salah satu masalah yang paling banyak dialami oleh calon sarjana adalah belum menguasai metode penelitian skripsi secara maksimal. Tentu ini bukan masalah sederhana karena penyebab dan akibatnya kompleks. Bisa karena dosen kurang maksimal menjelaskan materi atau bisa juga mahasiswanya tidak memperhatikan penjelasan.

Intinya, skripsi yang sudah di depan mata bahkan sedang dikerjakan sering kali tanpa didukung oleh pemahaman metode penelitian yang mendalam. Akibatnya, tak sedikit yang masih kebingungan membuat judul, menentukan metode penelitian, membuat variabel-indikator, dan sistematika lainnya. Jangan heran jika dilema ini Anda alami. Draf skripsi pun harus beberapa kali revisi sebelum acc (accepted/diterima).

Dalam ilmu sosial, metode penelitian yang dikenal luas yaitu metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif, berikut penjelasannya secara garis besar.

1. Metode penelitian kuantitatif

Metode penelitian kualitatif ini digunakan untuk mengukur pengaruh atau hubungan antara sebab (variabel X) dan akibat (variabel y). Bicara ukuran artinya bicara hitungan, maka untuk mengukur seberapa kuat pengaruh atau hubungan sebab terhadap akibat, digunakanlah statistik, baik secara manual atau komputerisasi.

Dalam penelitian ini, sebelum peneliti terjun ke lapangan, peneliti telah memiliki hipotesis (prediksi yang harus diuji dan dibuktikan lagi kebenarannya) dengan metode survei, yaitu menyebarkan angket ke sejumlah responden yang jumlah dan presisinya (kemungkinan salah) telah ditentukan dengan benar, sesuai dengan populasi objek penelitian.

Contoh judul penelitian kuantitatif : “Pengaruh program pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) keliling oleh kepolisian Resort (Polres) Kota Cimahi terhadap citra kepolisian bagi penduduk kecamatan Cigugur tengah”

2. Metode penelitian kualitatif

Metode penelitian kualitatif digunakan untuk mengetahui fenomena dalam kehidupan sosial secara mendalam, sehingga sebelum terjun ke lapangan, peneliti tidak membuat hipotesis terlebih dahulu. Peneliti mengidentifikasi masalah dengan mewawancarai sejumlah informan atau narasumber yang berkaitan dengan judul penelitian sampai menemukan data jenuh (jawaban yang sama dan konsisten dari beberapa informan yang berbeda).

Jawaban dari pertanyaan wawancara, bukan peneliti yang menentukan, melainkan informan. Jadi, apa pun jawaban informan, maka itulah yang akan diidentifikasi, dikategorisasi, dianalisis, dan dicari jalan keluarnya oleh peneliti. Tentu, pemilihan informan yang tepat dengan masalah penelitian, sangat vital dalam penelitian ini meskipun jumlahnya tak sebanyak penelitian kuantitatif.

Meski terbebas dari hitungan statistik, bukan artinya penelitian kualitatif lebih mudah disusun. Tingkat kesulitannya sama saja dengan penelitian kuantitatif karena dalam penelitian ini, di akhir bab peneliti harus menentukan teori yang tepat untuk dijadikan acuan dalam memberikan solusi dan saran.

Contoh judul penelitian kualitatif: “Fenomena intimidasi terhadap jemaah Ahmadiyah di kecamatan Cikeusik, Kabupaten pandeglang, Provinsi Banten”

Berikut adalah Struktur penulisan tugas skripsi yang Ucup budug ambil dari salah satu contoh skripsi terbaik saat jelajah Google. Tapi maaf Lupa Sitenya :)

Struktur penulisan / Penyusunan Skripsi :

A. Bagian Awal
1. halaman sampul depan halaman sampul depan merupakan sampul dari skripsi yang memuat secara berurutan
– Tulisan SKRIPSI
– Judul SKRIPSI
– Logo universitas
– Nama lengkap mahasiswa tanpa NIM
– Tempat pendidikan
– Tahun SKRIPSI diajukan judul dibuat singkat, tepat, logis dan informatif (maksimum 12 kata)

2. Halaman Sampul
Dalam Isi halaman sampul dalam sama dengan sampul depan, tetapi dibuat diatas kertas putih yang sama dengan kertas naskah atau materi SKRIPSI, disertai NIM

3. Halaman Pengesahan
Halaman ini merupakan lembar pengesahan SKRIPSI oleh dekan. halaman ini memuat tanggal SKRIPSI diujikan dengan nama penguji SKRIPSI

4. Halaman pernyataan penelitian original
Memuat lembar pernyataan penelitian original berarti tidak melakukan tindak plagiat

5. Halaman Persetujuan
Merupakan lembar persetujuan SKRIPSI oleh pembimbing SKRIPSI dan ketua departemen sesuai temapat mahasiswa mengambil bidang penulisan SKRIPSI.

6. Kata Pengantar
Diawali dengan kalimat yang dapat mengantarkan pembaca untuk tertarik terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan. halaman ini juga memuat penyampaian rasa terimakasih pembuat SKRIPSI kepada mereka dan pihak tertentu yanng telah membantu penelitian

7. Abstrak
Merupakan penjelasan singkat dan lengkap dari keseluruhan informasi pada setiap unsur yang ada dalam SKRIPSI. jumlah kata antara 200-300

8. Daftar Isi

9. Daftar
Tabel, Gambar, Lampiran, Arti Lambang, Singkatan dan Istilah.

B. Bagian Inti
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Identifikasi Masalah
1.3 Pembatasan dan Rumusan Masalah

BAB II Tujuan dan Manfaat
2.1 Tujuan Umum
2.2 Tujuan Khusus
2.3 Manfaat Penelitian

BAB III Kerangka Konsep dan Hipotesis

BAB IV Metode Penelitian

BAB V Hasil Penelitian

BAB VI Pembahasan

BAB VII Kesimpulan dan Saran
8.1 Kesimpulan
8.2 Kritik dan Saran

BAB VIII Daftar Pustaka

BAB IX Lampiran

Demikian yang gue dapat bagikan mengenai SKRIPSI, mohon maaf jika ada kesalahan karena gue belum pernah menulis SKRIPSI. Tapi, Semoga bermanfaat Ya teman…

FUNGSI BAHASA INDONESIA

Fungsi bahasa dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu fungsi bahasa secara umum dan secara khusus.

Dalam literatur bahasa, dirumuskannya fungsi bahasa secara umum bagi setiap orang adalah

  1. Sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan atau mengekspresikan diri.

Mampu mengungkapkan gambaran,maksud ,gagasan, dan perasaan. Melalui bahasa kita dapat menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam hati dan pikiran kita. Ada 2 unsur yang mendorong kita untuk mengekspresikan diri, yaitu:

Agar menarik perhatian orang lain terhadap diri kita.

Keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.

  1. Sebagai alat komunikasi.

Bahasa merupakan saluran maksud seseorang, yang melahirkan perasaan dan memungkinkan masyarakat untuk bekerja sama. Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Pada saat menggunakan bahasa sebagai komunikasi,berarti memiliki tujuan agar para pembaca atau pendengar menjadi sasaran utama perhatian seseorang. Bahasa yang dikatakan komunikatif karena bersifat umum. Selaku makhluk sosial yang memerlukan orang lain sebagai mitra berkomunikasi, manusia memakai dua cara berkomunikasi, yaitu verbal dan non verbal. Berkomunikasi secara verbal dilakukan menggunakan alat/media bahsa (lisan dan tulis), sedangkan berkomunikasi cesara non verbal dilakukan menggunakan media berupa aneka symbol, isyarat, kode, dan bunyi seperti tanda lalu lintas,sirene setelah itu diterjemahkan kedalam bahasa manusia.

  1. Sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi sosial.

Pada saat beradaptasi dilingkungan sosial, seseorang akan memilih bahasa yang digunakan tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Seseorang akan menggunakan bahasa yang non standar pada saat berbicara dengan teman- teman dan menggunakan bahasa standar pada saat berbicara dengan orang tua atau yang dihormati. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa memudahkan seseorang untuk berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa.

  1. Sebagai alat kontrol Sosial.

Yang mempengaruhi sikap, tingkah laku, serta tutur kata seseorang. Kontrolsosial dapat diterapkan pada diri sendiri dan masyarakat, contohnya buku- buku pelajaran, ceramah agama, orasi ilmiah, mengikuti diskusi serta iklan layanan masyarakat. Contoh lain yang menggambarkan fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita.

Fungsi bahasa secara khusus :

1. Mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari- hari.

Manusia adalah makhluk sosial yang tak terlepas dari hubungan komunikasi dengan makhluk sosialnya. Komunikasi yang berlangsung dapat menggunakan bahasa formal dan non formal.

2. Mewujudkan Seni (Sastra).

Bahasa yang dapat dipakai untuk mengungkapkan perasaan melalui media seni, seperti syair, puisi, prosa dll. Terkadang bahasa yang digunakan yang memiliki makna denotasi atau makna yang tersirat. Dalam hal ini, diperlukan pemahaman yang mendalam agar bisa mengetahui makna yang ingin disampaikan.

3. Mempelajari bahasa- bahasa kuno.

Dengan mempelajari bahasa kuno, akan dapat mengetahui peristiwa atau kejadian dimasa lampau. Untuk mengantisipasi kejadian yang mungkin atau dapat terjadi kembali dimasa yang akan datang, atau hanya sekedar memenuhi rasa keingintahuan tentang latar belakang dari suatu hal. Misalnya untuk mengetahui asal dari suatu budaya yang dapat ditelusuri melalui naskah kuno atau penemuan prasasti-prasasti.

4. Mengeksploitasi IPTEK.

Dengan jiwa dan sifat keingintahuan yang dimiliki manusia, serta akal dan pikiran yang sudah diberikan Tuhan kepada manusia, maka manusia akan selalu mengembangkan berbagai hal untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia akan selalu didokumentasikan supaya manusia lainnya juga dapat mempergunakannya dan melestarikannya demi kebaikan manusia itu sendiri.

KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting yang tercantum didalam :

1. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, “ Kami putra dan putriIndonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

2. Undang- Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan lambing Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.

Maka kedudukan bahasa Indonesia sebagai :

1. Bahasa Nasional

Kedudukannya berada diatas bahasa- bahasa daerah. Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 menegaskan bahwa dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai :

· Lambang kebanggaan Nasional.

Sebagai lambang kebanggaan Nasional bahasa Indonesia memancarkan nilai- nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia.Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia, kita harus bangga, menjunjung dan mempertahankannya. Sebagai realisasi kebanggaan terhadap bahasa Indonesia, harus memakainya tanpa ada rasa rendah diri, malu, dan acuh tak acuh. Kita harus bangga memakainya dengan memelihara dan mengembangkannya.

· Lambang Identitas Nasional.

Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakan lambang bangsa Indonesia. Berarti bahasa Indonesia akan dapat mengetahui identitas seseorang, yaitu sifat, tingkah laku, dan watak sebagai bangsa Indonesia. Kita harus menjaganya jangan sampai ciri kepribadian kita tidak tercermin di dalamnya. Jangan sampai bahasa Indonesia tidak menunjukkan gambaran bangsa Indonesia yang sebenarnya.

· Alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya.

Dengan fungsi ini memungkinkan masyarakat Indonesia yang beragam latar belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya dapat menyatu dan bersatu dalam kebangsaan, cita-cita, dan rasa nasib yang sama. Dengan bahasa Indonesia, bangsa Indonesia merasa aman dan serasi hidupnya, karena mereka tidak merasa bersaing dan tidak merasa lagi ‘dijajah’ oleh masyarakat suku lain. Karena dengan adanya kenyataan bahwa dengan menggunakan bahasa Indonesia, identitas suku dan nilai-nilai sosial budaya daerah masih tercermin dalam bahasa daerah masing-masing. Kedudukan dan fungsi bahasa daerah masih tegar dan tidak bergoyah sedikit pun. Bahkan, bahasa daerah diharapkan dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia.

· Alat penghubung antarbudaya antardaerah.

Manfaat bahasa Indonesia dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa Indonesia seseorang dapat saling berhubungan untuk segala aspek kehidupan. Bagi pemerintah, segala kebijakan dan strategi yang berhubungan dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan kemanan mudah diinformasikan kepada warga. Apabila arus informasi antarmanusia meningkat berarti akan mempercepat peningkatan pengetahuan seseorang. Apabila pengetahuan seseorang meningkat berarti tujuan pembangunan akan cepat tercapai.

2. Bahasa Negara (Bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)

Dalam Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia befungsi sebagai :

· Bahasa resmi kenegaraan.

Bukti bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan adalah digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi kemerdekaan RI 1945. Mulai saat itu bahasa Indonesia digunakan dalam segala upacara, peristiwa serta kegiatan kenegaraan.

· Bahasa pengantar resmi dilembaga-lembaga pendidikan.

Bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar, materi pelajaran ynag berbentuk media cetak hendaknya juga berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan menerjemahkan buku-buku yang berbahasa asing. Apabila hal ini dilakukan, sangat membantu peningkatan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknolologi (iptek).

· Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah.

Bahasa Indonesia dipakai dalam hubungan antarbadan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Sehubungan dengan itu hendaknya diadakan penyeragaman sistem administrasi dan mutu media komunikasi massa. Tujuan penyeragaman dan peningkatan mutu tersebut agar isi atau pesan yang disampaikan dapat dengan cepat dan tepat diterima oleh masyarakat.

· Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

Kebudayaan nasional yang beragam yang berasal dari masyarakatIndonesia yang beragam pula. Dalam penyebarluasan ilmu dan teknologi modern agar jangkauan pemakaiannya lebih luas, penyebaran ilmu dan teknologi, baik melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah maupun media cetak lain, hendaknya menggunakan bahasa Indonesia. Pelaksanaan ini mempunyai hubungan timbal-balik dengan fungsinya sebagai bahasa ilmu yang dirintis lewat lembaga-lembaga pendidikan, khususnya di perguruan tinggi.

Ejaan Yang Di Sempurnakan

Posted: December 26, 2012 in Uncategorized

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.
Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama telah ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia pada masa itu, Tun Hussien Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan. 
Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) bagi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Di Malaysia ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB).
Selanjutnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul “Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”.
Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. 
Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah”.
Perbedaan-perbedaan antara EYD dan ejaan sebelumnya adalah:
• ‘tj’ menjadi ‘c’ : tjutji → cuci
• ‘dj’ menjadi ‘j’ : djarak → jarak
• ‘oe’ menjadi ‘u’ : oemoem -> umum
• ‘j’ menjadi ‘y’ : sajang → sayang
• ‘nj’ menjadi ‘ny’ : njamuk → nyamuk
• ‘sj’ menjadi ‘sy’ : sjarat → syarat
• ‘ch’ menjadi ‘kh’ : achir → akhir
• awalan ‘di-‘ dan kata depan ‘di’ dibedakan penulisannya. Kata depan ‘di’ pada contoh “di rumah”, “di sawah”, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara ‘di-‘ pada dibeli, dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

EYD mencakup penggunaan dalam 12 hal, yaitu penggunaan huruf besar (kapital), tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda hubung, tanda titik koma, tanda tanya, tanda petik, tanda titik dua, tanda kurung, tanda elipsis, dan tanda garis miring.
1. Penggunaan Huruf Besar atau Huruf Kapital
a. Huruf pertama kata ganti “Anda”
– Ke mana Anda mau pergi Bang Toyib?
– Saya sudah menyerahkan uang itu kepada Anda setahun yang lalu untuk dibelikan PS3.

b. Huruf pertama pada awal kalimat.
– Ayam kampus itu sudah ditertibkan oleh aparat pada malam jumat kliwon kemarin.
– Anak itu memang kurang ajar.
– Sinetron picisan itu sangat laku dan ditonton oleh jutaan pemirsanya sedunia.

c. Huruf pertama unsur nama orang
– Yusuf Bin Sanusi
– Albert Mangapin Sidabutar
– Slamet Warjoni Jaya Negara

d. Huruf pertama untuk penamaan geografi
– Bunderan Senayan
– Jalan Kramat Sentiong
– Sungai Ciliwung
e. Huruf pertama petikan langsung
– Pak kumis bertanya, “Siapa yang mencuri jambu klutuk di kebunku?”
– Si panjul menjawab, “Aku tidak Mencuri jambu klutuk, tetapi yang kucuri adalah jambu monyet”.
– “Ngemeng aja lu”, kata si Ucup kepada kawannya si Maskur.

f. Huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang diikuti nama orang atau instansi.
– Camat Pesanggrahan
– Profesor Zainudin Zidane Aliudin
– Sekretaris Jendral Departemen Pendidikan Nasional

g. Huruf Pertama pada nama Negara, Pemerintahan, Lembaga Negara, juga Dokumen (kecuali kata dan).
– Mahkamah Internasional
– Republik Rakyat Cina
– Badan Pengembang Ekspor Nasional
2. Tanda Koma (,)
a. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya: 
• Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
• Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.
• Satu, dua, … tiga!
b. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Misalnya: 
• Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
• Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
c. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya: 
• Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
• Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
d. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya: 
• Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
• Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
• Dia tahu bahwa soal itu penting.
e. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya: 
• … Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
• … Jadi, soalnya tidak semudah itu.
f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya: 
• O, begitu?
• Wah, bukan main!
• Hati-hati, ya, nanti jatuh.

g. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya: 
• Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”
• “Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”
h. Tanda koma dipakai di antara 
(i) nama dan alamat,
(ii) bagian-bagian alamat,
(iii) tempat dan tanggal, dan
(iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya: 
• Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
• Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
• Surabaya, 10 mei 1960
• Kuala Lumpur, Malaysia
i. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya: 
• Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.

j. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. Misalnya: 
• W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

k. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya: 
• B. Ratulangi, S.E.
• Ny. Khadijah, M.A.

l. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Misalnya: 
• 12,5 m
• Rp12,50

m. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Misalnya 
• Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
• Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.
• Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma: 
• Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
n. Tanda koma dapat dipakai—untuk menghindari salah baca—di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Misalnya: 
• Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
• Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan: 
• Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.
• Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.
o. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Misalnya: 
• “Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.
• “Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.

3. Tanda Titik (.)
a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya: 
• Ayahku tinggal di Solo.
• Biarlah mereka duduk di sana.
• Dia menanyakan siapa yang akan datang.
• Hari ini tanggal 6 April 1973.
• Marilah kita mengheningkan cipta.
• Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.
b. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya: 
a. III. Departemen Dalam Negri
A. Direktorat Jendral Pembangunan Masyarakat Desa
B. Direktorat Jendral Agraria 
b. 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik

Catatan: 
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.
c. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. Misalnya: 
• pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

d. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu. Misalnya:
• 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
• 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
• 0.0.30 jam (30 detik)

e. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya: 
• Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.
f. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya: 
• Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
• Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.
Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya: 
• Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
• Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
• Nomor gironya 5645678.

g. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya. Misalnya: 
• Acara Kunjungan Adam Malik
• Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD’45)
• Salah Asuhan

h. Tanda titik tidak dipakai di belakang 
(1) alamat pengirim dan tanggal surat atau
(2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya: 
Jalan Diponegoro 82
Jakarta (tanpa titik)
1 April 1985 (tanpa titik)
Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)
Jalan Arif 43 (tanpa titik)
Palembang (tanpa titik)
Atau:
Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)
Jalan Cikini 71 (tanpa titik)
Jakarta (tanpa titik)

4. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Misalnya: 
• Alangkah seramnya peristiwa itu!
• Bersihkan kamar itu sekarang juga!
• Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya!
• Merdeka!

5.Tanda Hubung (–)
a. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris. Misalnya: 
• Di samping cara-cara lama itu ada ju-
ga cara yang baru.

Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.
Misalnya: 
Beberapa pendapat mengenai masalah itu
telah disampaikan ….
Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau
beranjak ….
atau
Beberapa pendapat mengenai masalah
itu telah disampaikan ….
Walaupun sakit, mereka tetap tidak
mau beranjak ….
bukan
Beberapa pendapat mengenai masalah i-
tu telah disampaikan ….
Walaupun sakit, mereka tetap tidak ma-
u beranjak ….

b. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Misalnya: 
• Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.
• Kukuran baru ini memudahkan kita me-
ngukur kelapa.
• Senjata ini merupakan alat pertahan-
an yang canggih.
Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

c. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya: 
• anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan.
Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.

d. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misalnya: 
p-a-n-i-t-i-a
8-4-1973

e. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas 
(i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.
Misalnya: 
• ber-evolusi
• dua puluh lima-ribuan (20 x 5000)
• tanggung jawab-dan kesetiakawanan-sosial
Bandingkan dengan: 
• be-revolusi
• dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25000)
• tanggung jawab dan kesetiakawanan social
f. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan 
(i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
(ii) ke- dengan angka,
(iii) angka dengan -an,
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan
(v) nama jabatan rangkap
Misalnya 
• se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara

g. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya: 
di-smash, pen-tackle-an

6. Tanda Titik Koma (;)
a. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. Misalnya: 
• Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.

b. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Misalnya: 
• Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran “Pilihan Pendengar”.

7. Tanda Tanya (?)
a. Tanda tanya dipakai pada akhir tanya. Misalnya: 
• Kapan ia berangkat?
• Saudara tahu, bukan?

b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya: 
Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

8. Tanda Petik (“…”)
a. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Misalnya: 
• “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
• Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia.”

b. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya: 
• Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
• Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” diterbitkan dalam Tempo.
• Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.

c. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya: 
• Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
• Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.

d. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya: 
• Kata Tono, “Saya juga minta satu.”

e. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. Misalnya: 
• Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “Si Hitam”.
• Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

Catatan: 
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

9. Tanda Titik Dua (:)
a. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya: 
• Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
• Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.

Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan Misalnya: 
• Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
• Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.

b. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya: 
a. Ketua
Sekretaris
Bendahara :
:
: Ahmad Wijaya
S. Handayani
B. Hartawan
b. Tempat Sidang
Pengantar Acara
Hari
Waktu :
:
:
: Ruang 104
Bambang S.
Senin
09.30

c. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : (meletakkan beberapa kopor) “Bawa kopor ini, Mir!”
Amir : “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)
Ibu : “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!” (duduk di kursi besar)

d. Tanda titik dua dipakai: 
(i) di antara jilid atau nomor dan halaman,
(ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci,
(iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta
(iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya: 
Tempo, I (1971), 34:7
Surah Yasin:9
Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara membina Bahasa Persatuan Kita?, Djakarta: Eresco, 1968.

10. Tanda Kurung ((…))
a. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.
Misalnya: 
• Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.
b. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Misalnya: 
• Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
• Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
c. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Misalnya: 
• Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
• Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.
d. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya: 
• Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

11. Tanda Elipsis (…)
a. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya: 
• Kalau begitu … ya, marilah kita bergerak.
b. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya: 
• Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
Catatan: 
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
Misalnya: 
Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ….

12. Tanda Garis Miring (/)
a. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya: 
No. 7/PK/1973
Jalan Kramat III/10
tahun anggaran 1985/1986
b. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
Misalnya: 
dikirimkan lewat darat/laut (dikirimkan lewat darat atau laut)
harganya Rp25,00/lembar (harganya Rp25,00 tiap lembar)

PANDUAN MENULIS SURAT RESMI

Posted: December 26, 2012 in Uncategorized

Panduan yang diberikan untuk kegunaan jabatan kerajaan dan bukan untuk tujuan peperiksaan awam.
Image

Cara menulis surat rasmi:

1.  Nama dan Alamat Pengirim :   

1.5   Nama pengirim ialah nama jabatan atau pejabat.

1.6   Lambang Kerajaan Malaysia diletakkan di sebelah kiri alamat pengirim.

1.7   Jarak nama dan alamat pengirim dari atas ialah “3 cm”.

1.8   Jarak nama dan alamat pengirim dari tepi ialah “2 cm”.

1.9   Pada akhir setiap baris hendaklah diletakkan tanda koma  “, “.

1.10                        Pada baris akhir diletakkan tanda noktah “ . “.

1.11                        Hendaklah dibuat satu garisan panjang melintang muka surat di bawah nama dan alamat pengirim iaitu dengan jarak “Langkau Dua”.

1.12                        Nama dan alamat pengirim boleh ditulis dengan huruf besar.

2.  Nombor Telefon dan Faks:

2.1 Hendaklah ditulis di sebelah kanan bertentangan dengan baris akhir alamat

pengirim.

.

3. Nama dan Alamat Penerima:

3.1 Nama dan alamat penerima ditulis dengan langkau dua di bawah garis lintang

dan sama lajur dengan nama dan alamat pengirim.

3.2 Nama penerima hendaklah ditulis dengan lengkap termasuk gelaran dan

pangkat.

          Contoh: Yang Berbahagia Profesor Tan Sri Datuk Dr. Haji ( isim),

3.3 Di bawah nama penerima hendaklah ditulis nama jawatan dan dikuti dengan

alamat pejabat.

3.4 Rujukan kehormat hendaklah ditulis bersesuaian dengan kedudukan atau

pangkat.

         Contoh : Yang Berbahagia Datuk Abdul Rafie bin Mahat,

Ketua Pengarah Pendidikan Malaysia,

Kementerian Pendidikan Malaysia,

Paras 7 ,Blok J Utara,Pusat Bandar Damansara,

50604  Kuala Lumpur.

11.2Pada hujung baris diletakkan tanda koma.

11.3 Baris akhir alamat penerima hendaklah diletakkan tanda noktah .

11.4Sekiranya surat tersebut dikirimkan melalui ketua penerima ,hendaklah ditulis

“ Melalui dan salinan:”. Jaraknya ialah langkau dua di bawah alamat penerima.

Contoh :

En. Yunos bin Husin,

Penyelia Pendidikan Daerah,

Pejabat Pendidikan Daerah Kuala Kangsar,                      (Penerima)

33000 Kuala Kangsar,Perak.

Melalui dan salinan:

Pegawai Pendidikan Daerah,

Pejabat Pejabat Pendidikan Daerah Kuala Kangsar,        (Ketua Penerima)

33000 Kuala Kangsar,Perak.

11.5Sekiranya surat tersebut dikirimkan kepada penerima melalui ketua pengirim, hendaklah ditulis “Melalui dan salinan:”. Jaraknya ialah langkau dua di bawah alamat penerima.

Contoh : Guru besar menulis surat kepada Pengarah Pendidikan Perak melalui

               Pegawai Pendidikan Daerah.

Pengarah Pendidikan Perak,

Jabatan Pendidikan Perak ,

Jalan Tun Abdul Razak,                                                  (Penerima)

30640 Ipoh,Perak.

Melalui dan salinan:

Pegawai Pendidikan Daerah,

Pejabat Pejabat Pendidikan Daerah Kuala Kangsar,        (Ketua Pengirim)

33000 Kuala Kangsar,Perak.

4. Nombor Rujukan:

4.1 Nombor rujukan surat ditulis di sudut kanan, langkau satu di bawah garis

lintang.

4.2 Nombor rujukan penerima ditulis di sebelah atas dan diikuti dengan nombor

rujukan pengirim di bawahnya.

   5. Tarikh :

5.1 Tarikh hendaklah ditulis di sebelah kanan muka surat pada baris yang sama

dengan baris akhir alamat penerima.

1.1     Hari bulan ditulis dalam bentuk angka,nama bulan dieja penuh dengan huruf

besar atau kecil dan tahun ditulis penuh dengan angka.

   6. Untuk Perhatian:

6.1 Untuk perhatian ditulis dalam kurungan . Boleh ditulis dengan frasa penuh atau

dalam bentuk akronim.

     (Untuk perhatian: Ketua Sektor Pengurusan Sekolah)

atau

     (u.p. : Ketua Sektor Pengurusan Sekolah )

 7. Perkataan Menghadap Surat:

Iaitu panggilan (sapaan) atau rujukan kehormat kepada penerima.

1.1     Panggilan ini mesti sesuai dengan darjat,pangkat, gelaran dan jantina penerima.

Contoh :

Yang Berhormat,

Yang Mulia,

Yang Berhormat Mulia,

Tan Sri,

Dato’,   atau Datuk,

Tuan,  atau Puan,

Catatan: Sapaan bagi ketua jabatan tidak terikat kepada jantina.Contohnya

sapaan “tuan” boleh digunakan bagi ketua jabatan lelaki atau

perempuan. Begitu juga sapaan kepada penerima yang umum

digunakan sapaan “tuan”.

1.2     Panggilan menghadap surat ini hendaklah ditulis dengan langkau dua di bawah nama dan alamat penerima dan selajur dengan alamat penerima.

1.3     Letakkan tanda koma “ ,” di hujungnya.

8. Perkara atau Tajuk Surat:

8.1 Ditulis dengan langkau dua di bawah perkataan menghadap surat iaitu selajur

dengan nama dan alamat pengirim serta penerima.

8.2 Tajuk surat hendaklah tepat,ringkas dan padat serta dapat membayangkan

kandungan surat.

8.3 Huruf pertama pada setiap perkataan hendaklah ditulis dengan huruf besar dan

digariskan.

8.4 Jika tajuk surat  lebih daripada satu baris, hanya baris terakhir digariskan.

8.5 Tajuk surat tidak perlu diletakkan noktah.

            Contoh:

           Maklumat Guru Sandaran Tidak Terlatih,Guru Kursus Dalam Cuti dan
           Guru Kontrak Bagi Daerah Kuala Kangsar  Tahun 2003

9.  Pemerengganan: 

9.1 Perenggan pertama atau pembuka surat ditulis dengan langkau dua di bawah

tajuk  dan dimulakan selajur dengan tajuk,nama dan alamat pengirim dan

penerima.

9.2 Perenggan pertama tidak dinomborkan dengan nombor “1” tetapi jika ada

pecahan maklumat yang hendak disampaikan boleh gunakan pecahan berikut:

1.1

1.2

1.3 … dan seterusnya.

9.3 Perenggan kedua dan seterusnya dinomborkan dengan angka dan noktah.

9.4 Jarak antara satu perenggan dengan perenggan yang lain ialah langkau dua.

9.5 Bagi perenggan yang mempunyai pecahan hendaklah digunakan pecahan :

2.1

2.2

2.3 … dan seterusnya.

Jika ada pecahan seterusnya gunakan huruf ( abjad)

(a)

(b)

(c) … dan seterusnya.

10. Penutupan  Surat : 

.

10.1 Penutupan surat rasmi hendaklah ringkas,tepat dan sesuai dengan tujuan

atau hasrat surat tersebut dan tiada nombor.

10.2 Penutupan surat rasmi terdapat tiga penanda wacana dan cogan kata iaitu:

a.      Penanda Antisipasi

b.      Penanda  Penamat

c.      Cogan Kata

d.      Penanda Akuan atau Rujukan Diri

1.1      Contoh Penanda Antisipasi :

a.      Kerjasama tuan dalam hal ini amatlah dihargai dan didahului dengan ucapan ribuan terima kasih.

b.      Atas jasa baik tuan mempertimbang permohonan ini amatlah dihargai dan didahului dengan ucapan jutaan terima kasih.

c.      Kesudian tuan melapangkan masa bagi menerima jemputan kami amatlah disanjung tinggi dan didahului dengan ucapan jutaan terima kasih.  .

1.2       Contoh Penanda Penamat:

a.      Sekian terima kasih.

b.      Sekian.

c.      Sekian untuk perhatian dan makluman tuan.

1.3      Contoh Cogan Kata: Ditulis dengan huruf besar dalam kata petik (“ ”)

“BERKHIDMAT UNTUK NEGARA”.

 

1.4       Contoh Penanda Akuan atau Rujukan Diri:

a.      Saya yang menurut perintah,

b.      Yang benar,

c.      Patik dengan hormat dan takzimnya,

1.5      Di hujung kata akuan hendaklah diletakkan tanda koma “,”

1.6      Kata akuan ditulis sebelah kiri selajur dengan penutupan dengan jarak langkau dua di bawah cogan kata.

.

11. Tandatangan dan Nama Pengirim:

11.1 Tandatangan diturunkan di bawah  Penanda Akuan.

1.5         Di bawah tandatangan ditulis nama penuh pengirim dengan huruf besar dan

diletakkan dalam kurungan .Di bawahnya ditulis nama jawatan dan perkataan

“bagi pihak”  ketua jabatan jika berkaitan.

1.6         Tidak boleh tulis kata sapaan sebelum nama seperti Encik,Tuan, Yang

Berhormat, Yang Mulia dan lain-lain lagi.

1.7         Perkataan “bagi pihak” biasanya ditulis dalam akronim “ b.p.”

1.8         Di bawah jawatan tidak perlu letak alamat pejabat.

12.Salinan Kepada :

12.1 Sekiranya perlu dikirimkan salinan surat tersebut kepada pihak lain,tuliskan

dalam jarak langkau dua di bawah nama pengirim.

a. Jika salinan surat untuk edaran dalaman dan jabatan yang sama ,nama

penerima tidak perlu dituliskan alamat penuh.

            Contoh:

s.k. :

1. Pengarah Pendidikan Perak.

2. Timbalan Pengarah Pendidikan Perak.

3. Semua Ketua Sektor.

4. Semua Pegawai Pendidikan Daerah.

b.   Jika salinan surat untuk dihantar kepada pihak lain di luar jabatan

hendaklah ditulis nama penerima dan beralamat penuh.

      Contoh:

s.k. :

1.    Pengarah Pendidikan Melaka,

Jabatan Pendidikan Melaka,

Jalan Bukit Beruang,

75902 Melaka.

5.        Pengarah Pendidikan Negeri Sembilan,

Jabatan Pendidikan Negeri Sembilan,

Jalan Dato’ Hamzah,

70990 Seremban,Negeri Sembilan..

b.      Di bawah “salinan kepada “boleh juga diltuliskan arahan-arahan

tertentu.

  Contoh:

                     s.k.:

                           1.  Guru Besar SK. Kampung Maamor,Sungai Siput(U):

Sila kemukakan dokumen berikut ke  Jabatan Pendidikan Perak

( u.p.: Ketua Sektor Pengurusan  Perkhidmatan Pendidikan ) :

      1.1 6 salinan Laporan Perubahan ( Kew 8 ) mengikut Pekeliling Jabatan

            Pendidikan Perak ( Perkhidmatan Tadbiran ) Bil .2 Tahun 1984 bertarikh

      21.7.1984 bersama –sama  baucar  tuntutan mengikut Pekeliling

      Jabatan Pendidikan Perak  “ J.Pel.Pk.Kew.889/64 Pt. II  (55 ) & ( 83 )

      masing-masing bertarikh 27.12.1984   dan 5.3.1986 bagi tujuan

      mempercepat bayaran elaun guru sandaran.

                 1.2 Salinan sijil akademik yang disahkan.

                 1.3 Surat penerimaan jawatan ( Lampiran C ).

     1.4 Surat Sumpah Bukan Penjenayah dan Bukan Penagih Dadah bagi guru

           sandaran yang pertama kali dilantik. Jika pelantikan kali kedua sila

           sertakan salinan yang diakui sah. Bagi tujuan mempercepat pembayaran

           elaun dokumen-dokumen ini boleh dihantar kemudian.

                         2.  Ketua Sektor Pengurusan Sekolah (u.p: Ketua Unit Sekolah Rendah).

13. Penulisan Muka Surat:

Ditulis di hujung sebelah kanan atau di bahagian tengah.Sebaiknya ada

penanda sambungan di muka surat  sebelah sekiranya ada sambungan.